Laman

Minggu, 31 Mei 2015

Ampunan Dan Rahmat Allah Adalah Pertama dan Utama

AMPUNAN & RAHMAT ALLAH ADALAH PERTAMA & UTAMA


Lamun siro kabeh podo syukur marang nikmate gusti Allah mongko gusti Allah bakal nambah nikmate, Lan menowo podo kufur siro kabeh marang nikmate gusti Allah, Saktemene siksane gusti Allah nggegirisi banget.

Dalam setiap kesempatan, jangan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga, memohon dan berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak untuk hari ini, besuk pagi dan lain sebagainya, tetapi sempatkan untuk memohon rahmat-Nya, nyuwun kawelasanipun gusti Allah.

Rahmat Allah itu untuk semua makhluk ?

Rahmat Allah itu diperuntukkan bagi semua makhluk-Nya di muka bumi ini, misalnya adalah bumi yang semula gersang disuburkan dengan hujan oleh Allah, yang tentu saja bisa dinikmati oleh semua orang hingga orang kafir sekalipun. 
Al Quran surat Ar Rum ayat 50 menyebutkan :

"Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati ..." (QS. Ar Rum 50)

Juga di bagian lain, Allah SWT berfirman dalam Al Quran :

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian ..." (QS. Al Baqarah 29)

Demikian pula rahmat berupa akal fikiran yang cerdas, juga diberikan oleh Allah kepada siapapun. Sayangnya, manusia banyak yang lalai untuk mensyukuri nikmat karunia-Nya. Padahal Allah sudah memenuhi kebutuhan hidup mereka, bahkan jika mau menghitung-hitung nikmat Allah di dunia ini, tidak mungkin akan terhitung, saking banyaknya.

Terlebih lagi rahmat yang akan diperoleh di akherat kelak, yaitu yang disediakan bagi orang-orang yang taqwa. Karena sebenarnya rahmat Allah yang dinikmati oleh para hamba-Nya di dunia baru 1 bagian saja, sedangkan yang 99 bagian hanya bisa dinikmati oleh hamba-hamba-Nya yang taqwa di akherat. 
Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW :

"Allah telah menjadikan rahmat (kasih sayang) sebanyak 100 bagian. Yang ditahan di sisi-Nya 99 bagian dan yang diturunkan ke bumi 1 bagian. Dari yang sebagian itu makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya takut kalau-kalau menimpanya." (HR. Bukhari, Jawahirul Bukhari Hlm. 463).

Kuda karena kasih sayangnya rela mengangkat kakinya khawatir kalau-kalau sampai menginjak anaknya; seorang ibu rela mengorbankan seluruh jiwa raganya, adalah karena kasih sayangnya terhadap si anak. Seorang pria, rela mengorbankan apapun terhadap wanita pujaannya, juga karena cinta dan kasih sayang. Bahkan segenap ummat Islam diperintahkan untuk memohonkan rahmat dan barokah kepada Allah bagi yang ditemuinya melalui salam Islam. Sampai dengan orang setelah sholat berakhirpun diperintahkan agar memohonkan rahmat Allah untuk makhluk di kanan kirinya.

Semua itu baru realisasi dari satu bagian rahmat Allah yang diturunkan ke dunia.

Oleh karena itu betapa pentingnya rahmat Allah itu. Bahkan Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa yang memasukkan seseorang ke dalam surga bukan semata-mata amal sholehnya, kalau saja tidak memperoleh ampunan (maghfiroh) dan rahmat Allah SWT.
Aisyah RA pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW :

"Tunjukkanlah kepada manusia, dekatilah dan berilah kabar gembaira, sebenarnya amal seseorang itu tidak akan memasukkan dia ke dalam syurga. Mereka bertanya,: Tidak juga paduka ya Rasulullah ? Nabi menjawab,"tidak juga aku, kecuali Allah mengaruniai aku dengan ampunan dan rahmat-Nya."(HR. Bukhari)

Bahkan tanpa rahmat Allah bukan saja tidak masuk surga, akan tetapi termasuk juga manusia akan memperoleh kerugian. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Quran :

"... Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, niscaya kalian tergolong orang yang rugi." (QS. Al Baqarah 64)

Selanjutnya, rahmat atau karunia Allah itu ada yang besar, ada yang kecil, dan ada pula yang sempurna. Demikian menurut Bey Arifin dalam buku Samudra Al Fatihah susunannya. Yang termasuk kategori rahmat kecil adalah segala rahmat yang hanya bisa dinikmati di dunia. misalnya rahmat hidup, sehat, kekayaan, jabatan, ketrampilan, dll.

Kita mestinya juga membutuhkan rahmat itu, namun jangan terbuai oleh rahmat kecil, sebab yang lebih utama lagi adalah rahmat yang besar. Yaitu rahmat yang tidak bisa dinilai dengan seluruh harta kekayaan, rahmat yang kekal abadi. Yaitu keimanan atau agama yang benar, ilmu yang merupakan jalan lurus kehidupan (shirathal mustaqim), perasaan bahagia yang bersumber dari iman, memiliki perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta cinta pula kepada ajaran-ajaran-Nya. Sedangkan rahmat yang paling sempurna adalah masuk surga. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

"Tamaamun Nu'mati Dukhuulul Jannati" artinya : "Nikmat/rahmat sempurna adalah masuk surga."

Dengan tersedianya rahmat Allah yang tak terhingga banyaknya itu, sudah semestinya kita harus berupaya untuk dapat meraih rahmat Allah tadi yaitu dengan mentaati segala perintah-Nya, mensyukuri segala karunia-Nya, sabar terhadap segala cobaan-Nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dilimpahi rahmat-Nya sejak rahmat kecil, rahmat besar, hingga rahmat yang sempurna. Amin.

Minggu, 24 Mei 2015

Ruwahan : Kebiasaan dari Dulu, Sekarang, dan Terus ... Selanjutnya

Iki sasi ruwah nuli sasi poso kewajiban kito kudu poso... dst. Demikian syair dan tembang jowo yang ada di masyarakat.
Ruwahan

Dan bahwa, sekarang ini adalah bulan Ruwah (Sya’ban) bulan yang kedelapan dan akan segera memasuki bulan kesembilan yaitu sasi poso (bulan Ramadlon). Di bulan Ruwah ada kebiasaan sebagian masyarakat yang sampai saat ini masih dilaksanakan di beberapa tempat dan daerah, yaitu kebiasaan atau tradisi Ruwahan (Arwahan). Tradisi yang dilakukan dengan berdoa untuk diri pribadi, orangtua dan keluarga, dan untuk kerabat, leluhur serta orang-orang yang telah meninggal, orang-orang yang telah beriman lebih dahulu dari pada kita semua.

Kegiatan Ruwahan semacam ini kadang dilakukan setiap keluarga, atau bersama-sama dengan anggota masyarakat. Kapan pertama kali Ruwahan ini dilakukan? Tidak dapat dipastikan kapan mulainya, tetapi telah dilakukan sebagai tradisi dan terus menerus lintas generasi, turun temurun ke anak cucu sampai saat ini.
Sebelumnya oleh poro winasis, sesepuh pinisepuh, dan para alim diberikan sebuah simbol-simbol sebagai perlambang dan hikmah berupa makanan yaitu “Ketan, Kolak dan Apem”.

Oleh karenanya di bulan Ruwah, makanan ini menjadi sangat familiar dan menjadi hampir dipastikan menjadi menu utama supaya segenap manusia tidak lalai akan dirinya. Tidak lalai akan ajaran tuntunan Rasulullah SAW bahwa bulan Sya’ban (Ruwah) adalah bulan kebaikan. Jangan lalai hanya untuk menantikan bulan Ramadlon tetapi kurang mempersiapkan apa yang harus dilakukan dan kurang memperhatikan diri dalam membersihkan jasmani dan rohani dalam menggapai Ridlo Ilahi Rabbi. Bukan sekedar menggelar makanan  “Ketan, Kolak dan Apem”.

Bulan Ruwah (Sya’ban) adalah bulan untuk menyirami dan memelihara amal-amal yang sudah baik tetap baik dan yang kurang baik menjadi baik. Karena Di bulan tersebut banyak yang lalai untuk beramal sholeh karena yang sangat dinantikan adalah bulan Ramadhan. Mengenai bulan Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i no. 2357)

Mengingatkan saja untuk diri pribadi dan handai taulan, bahwa baik dilakukan di bulan Sya’ban (Ruwah) dan di bulan-bulan yang lain adalah Puasa dan ziarah. Amalan yang disunnahkan di bulan Sya’ban adalah banyak-banyak berpuasa. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Dan setelah bulan Sya’ban adalah bulan Ramadhan, sehingga bagi yang masih memiliki utang puasa, maka ia punya kewajiban untuk segera melunasinya, jangan ditunda sampai bulan Ramadhan berikutnya. Selanjutnya Kita diperintahkan melakukan ziarah kubur setiap saat agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).(HR. Muslim no. 976).

Kembali kepada Ruwahan, Kenapa dikhususkan di bulan Ruwah?

Seperti Syawalan dilakukan berkaitan dengan bulan Syawal, Tradisi dan kebiasaan ini dilakukan pada bulan Ruwah karena bila tidak dilakukan di bulan Ruwah bukan Ruwahan. He he he.

Selanjutnya yang terpenting bagi kita adalah doa dari orang yang hidup kepada orang yang telah mati itu sangaaaat bermanfaat, dan bahkan di antara bentuk kemanfaatan doa adalah dapat diberikan kepada orang yang masih hidup dan juga orang yang telah mati.
Suatu tradisi yang baik ini boleh jadi dilakukan tidak hanya di bulan Ruwah saja, tetapi bisa hampir di setiap bulan, setiap pekan, bahkan setiap hari dan saat-saat yang mustajab, selalu berdoa karena doa adalah senjata bagi seorang yang beriman. Doa sebagai bentuk penghormatan dan bakti kita kepada orangtua.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak shalih yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya.” (HR. Ibnu Majah no. 242)

Di samping do’a dari seorang anak, amal shalihnya seorang anak juga bermanfaat untuk orang tuanya, meskipun ia tidak niatkan untuk kirim pahala pada orang tuanya. Apalagi diniatkan. Ini berarti amalan dari anaknya yang shalih masih tetap bermanfaat untuk orang tua walaupun sudah meninggal karena anak adalah hasil jerih payah orang tua.
Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ  

Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa’i no. 4451).


Nabi Muhammad SAW bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733).

Dan Allah SWT berfirman dalam QS. Al Hasy ayat 10 :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.(QS. Al Hasyr: 10).

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang terdahulupun berdoa yang ditujukan kepada orang yang masih hidup dan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Mari kita renungkan ... . Allah SWT berfirman :
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39).

Semoga ini sebagai bagian dari usaha yang kita lakukan dan usahakan, adalah berdoa dan mendoakan mereka semua. Seperti tersebut dalam doa tasyahud. Untuk itu, Marilah kita doakan orangtua, kerabat keluarga dan orang-orang mukmin yang sekarang ataupun yang terdahulu baik laki-laki ataupun perempuan, insya Allah akan mendapat bagian doa pula dari anak cucu kemudian.

Jumat, 08 Mei 2015

Keutamaan dan Keberkahan Hari Jum'at

Hari Jum'at adalah hari yang utama dalam sepekan. Hari Jum'at adalah hari yang diberkahi, yang dengannya Allah SWT mengistimewakan kaum Muslimin di antara ummat-ummat lainnya.

Keutamaan dan keberkahan hari yang mulia ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Keutamaan dan kemuliaan disebutkan dalam banyak hadits,

Di antaranya, riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi Mhammad SAW bersabda:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ,  فِيهِ خُلِقَ آدَمُ , وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا , وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
"Sebaik-baik hari yang diterangi oleh matahari adalah hari Jum'at. Pada hari itu, Adam diciptakan. Pada hari itu Adam di masukkan ke dalam Surga. Pada hari itu, Adam dikeluarkan dari Surga. Dan, hari kiamat itu tidak terjadi kecuali pada hari Jum'at." [Shahih Muslim [II/585], Kitab "al Jumu'ah," Bab "Fadhl Yaumil Jumu'ah."]

Dari Abu Hurairah RA dan Hudzaifah RA, keduanya berkata: "Rasulullah  SAW bersabda:

... أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا , فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ , وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الأَحَدِ , فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ  

'Allah SWT telah menyesatkan ummat sebelum kita dari hari Jum'at. Maka hari Sabtu untuk orang-orang Yahudi dan hari Ahad untuk orang-orang Nasrani. Lalu, Allah SWT mendatangkan dan menunjukkan kita kepada hari Jum'at ..." [HR. Imam Muslim dalam kitab Shahiih-nya [II/286], Kitab "al-Jumu'ah," Bab "Hidaayah Haadzihil Ummah li Yaumil Jumu'ah."]

2. Adanya satu waktu mustajab [dikabulkannya do'a]

Dalam kitab Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah RA :"Rasulullah SAW menyebutkan [salah satu keutamaan] hari Jum'at, lalu bersabda:

فِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ , وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي , يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ , وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

'Di dalamnya terdapat satu waktu, tidaklah seorang hamba Muslim mendapati waktu tersebut dalam keadaan shalat sambil memohon sesuatu kepada Allah SWT, melainkan Allah memberikan kepadanya apa yang dimohonkannya.'
Beliau berisyarat dengan tangan beliau yang mengindikasikan sedikitnya waktu tersebut." {[Shahiihul Bukhari [I/224], Kitab 'al-Jumu'ah, "Bab "as-Saa'ah al-Latii fii Yaumil Jumu'ah,"] dan [Shahiih Muslim [II/584], Kitab "al-Jumu'ah,"Bab "as-Saa'ah al-Lati fii Yaumil Jumu'ah."]}.

Namun, para ulama dari kalangan Sahabat, Tabi'in, dan orang-orang setelah mereka, masih berbeda pendapat mengenai waktu ini; apakah masih tetap berlaku [hingga saat ini] ataukah telah dihilangkan? Mengenai pendapat yang menganggapnya masih tetap berlaku, para ulama berbeda pendapat mengenai batasannya, hingga lebih dari tiga puluh pendapat, seperti dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, lengkap dengan dalil-dalilnya. [Lihat Fat-hul Baari [II/416-421].

Di antara pendapat-pendapat ini, bisa dikatakan ada dua pendapat:

Pertama, waktu mustajab itu dimulai sejak duduknya imam [di mimbar] hingga berakhirnya shalat.

Salah satu dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahiih-nya, dari hadits Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy'ari RA, 'Abdullah bin "Umar RA bertanya kepadanya: "Apakah kamu pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW mengenai masalah satu waktu [mustajab] di hari Jum'at?" Abu Burdah berkata: "Ya, aku pernah mendengar ayahku berkata: 'Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

'Waktu itu adalah antara duduknya imam hingga berakhirnya shalat." [Shahiih Muslim [II/584], Kitab "al-Jumu'ah," Bab "Fis Saa'ah al-Latii fii Yaumil Jumu'ah."]

Di antara ulama yang memilih pendapat ini adalah Imam an-Nawawi Rahimahullah. Beliau berkata: "Inilah pendapat yang benar, bahkan yang paling tepat." [Syarhun Nawawi li Shahiih Muslim [VI/140-141].
Sementara as-Suyuthi Rahimahullah memastikannya bahwa waktu itu adalah ketika sedang dikumandangkan iqamat shalat. [Risalah Nuurul Lum'ah fii Khashaa-ishil Jumu'ah, karya as-Suyuthi.]

Kedua, waktu mustajab itu berada pada penghujung waktu setelah shalat 'Ashar.

Di antara dalil-dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sebagian penulis kitab Sunan, dari Jabir bin 'Abdullah RA, dari Nabi SAW , beliau bersabda:

 يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً, لاَ يُوجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ,   فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ   سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

"Hari Jum'at terdiri dari dua belas jam, tidaklah dijumpai seorang hamba Muslim pada waktu itu yang memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia memberikan apa yang dimohonkannya. Maka carilah waktu itu pada penghujung waktu setelah shalat "Ashar." [HR. Abu Dawud, an-Nasa-i, dan al-Hakim]

Di antara ulama yang memilih pendapat ini adalah Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, ia berkata: "Inilah pendapat mayoritas ulama Salaf, dan pendapat inilah yang disebutkan oleh kebanyakan hadits.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hikmahdirahasiakannya waktu ini adalah sebagai anjuran bagi seorang hamba agar bersungguh-sungguh dalam mencarinya, memperbanyak do'a, dan mengisi waktu untuk beribadah, sambil berharap dapat menepati waktu tersebut. [Fat-hul Baari [II/417] dengan saduran]

3. Siapapun yang melaksanakan shalat Jum'at dengan memperhatikan aturan-aturannya, maka dosanya antara Jum'at tersebut dengan Jum'at berikutnya akan diampuni.

Ini dijelaskan pada hadits yang disebutkan dalam Shahiihul Bukhari, dari Salman al-Farisi RA, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ, وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ, وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ, أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ, ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ,  ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ, ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ, إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى

"Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum'at, bersuci semampunya, dan memakai minyak wangi atau menyentuh minyak wangi yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar, ia memisahkan di antara dua orang [jamaah yang ada di masjid], setelah itu ia mengerjakan shalat sebanyak yang ia mampu, kemudian ia diam ketika imam sedang berkhutbah, melainkan dosanya antara hari Jum'at tersebut dengan Jum'at lainnya [berikutnya] akan diampuni." [Shahiih Bukhari [I/213], Kitab "al-Jumu'ah," Bab "ad-Duhn lil Jumu'ah."]

Dalam Shahiih Muslim disebutkan adanya tambahan tiga hari. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ, ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ, فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ, ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ, ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ, غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى, وَفَضْلُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

"Barangsiapa mandi, kemudian medatangi shalat Jum'at, lalu ia mengerjakan shalat yang sebanyak yang dia mampu, setelah itu ia diam hingga[imam] selesai khutbahnya, lantas ia mengerjakan shalat bersamanya, niscaya dosanya antara Jum'at tersebut dengan Jum'at berikutnya ditambah tiga hari akan diampuni." [Shahiih Muslim [II/587], Kitab "al-Jumu'ah," Bab "Fadhl Man Asma'a wa Anshata fil Khutbah].

Disyariatkan supaya menjauhi dosa-dosa besar [al-kabaa-ir] bagi penghapusan dosa-dosa kecil. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW :

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

"Shalat lima waktu, Jum'at satu ke Jum'at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus bagi dosa-dosa yang ada di antaranya, selama dosa-dosa besar dihindari." [HR. Muslim].

4. Orang yang bergegas ke Masjid untuk mengerjakan shalat Jum'at akan memperoleh keutamaan yang besar.

Dalam kitab Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ, ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً, وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً, وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ, وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً, وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً, فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti halnya mandi junub, lali ia berangkat [di awal waktu], seakan-akan ia berkorban seekor unta yang gemuk. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, seakan-akan ia berkorban seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, seakan-akan ia berkorban seekor domba bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, seakan-akan ia berkorban seekor ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, seakan-akan ia berkorban sebutir telur. Kemudian, ketika imam telah keluar, para Malaikat pun hadir untuk mendengarkan khutbah." {[Shahiihul Bukhari [I/213], Kitab "al-Jumu'ah," Bab "Fadhlul Jumua'ah,"] dan [Shahiih Muslim [II/587], kitab 'al-Jumu'ah," Bab "Fadhlut Tahjiir Yaumul Jumu'ah." ]Redaksi hadits ini milik al-Bukhari}

5. Hari Jum'at adalah hari berkumpulnya kaum Muslimin di Masjid Jami' untuk shalat dan menyimak dua khutbah. Jum'at yang mengandung bimbingan, pengajaran, dan nasihat bagi kaum Muslimin, serta manfaat agamawi dan duniawi. Semua ini termasuk keberkahan hari Jum'at.

Hari ini juga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang mulia lainnya. Ibnul Qayyim menyebutkan tiga puluh tiga keistimewaan. Bahkan, as-Suyuthi menyebutkan hingga seratus satu keistimewaan.

Seyogianya seorang Muslim memanfaatkan hari yang mulia dan diberkahi ini dengan melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, serta meluangkan waktu untunya hingga ia memperoleh pahala yang besar dan balasan yang melimpah. Allahumma, Aamiin.

Sumber: At-Tabarruk anwaa'uhu wa ahkamuhu, [Tabarruk : Memburu berkah sepanjang masa di seluruh tempat di dunia menurut Al Quran dan As-Sunnah, disertasi doktoral karya DR. Nashir bin 'Abdurrahman bin Muhammad al-Judai', Penerbit Pustaka Imam asy-Syafi'i]

Senin, 04 Mei 2015

Muhammadiyah Mengeluarkan Maklumat Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah 1436 H

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah 1436 Hijriyah yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Din Syamsuddin, dan Sekretaris Umum Agung Danarto pada hari Selasa, 9 Rajab 1436 H atau 28 April 2015.
Dalam Maklumat disebutkan, sesuai Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengumumkan,
A. Bahwa 1 Ramadhan 1436 H jatuh pada Kamis Pon, Tanggal 18 Juni 2015.
B. Bahwa 1 Syawal 1436 H jatuh pada Jumat Pahing, Tanggal 17 Juli 2015.
C. Bahwa 1 Dzulhijah 1436 H jatuh pada Senen Legi,  Tanggal 14 September 2015.
D. Hari Arafah (9 Dzulhijah 1436 H) jatuh pada Selasa Wage, Tanggal 22 September 2015.
E. Idul Adha (10 Dzulhijah) jatuh pada Rabu Kliwon, Tanggal 23 September 2015.
Dengan demikian, Maklumat tersebut dapat menjadi pedoman warga Muhammadiyah dalam menyambut bulan Ramadhan 1436 Hijriyah. Maklumat PP Muhammadiyah tersebut juga dilampiri penjelasan dan hasil perhitungan dari Majelis tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dan ditandatangani Wakil Ketua Majelis Oman Fathurohman pada 6 April 2015. (mac)
Download File PDF klik -> Maklumat 1436 H
Download File PDF Klik -> Penjelasan Hasil Hisab 1436 H
Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-4518-detail-pimpinan-pusat-mengeluarkan-maklumat-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijah-1436-h.html

Kiriman yang Baik untuk Mayyit

Orang mati tidak mungkin bisa kembali lagi. Sebagaimana tidak mungkinnya orang mati menambah amal sebagai revisi atas amal yang telah diperbuatnya selama hidup. Karena sedari masa hidupnya telah diingatkan bahwa ad-dunya mazra’atul akhirat’. itu artinya, masa hidup merupakan momentum penanaman dan masa mati adalah waktu untuk memanen. Maka janganlah mengharap untuk menambah amal ketika telah mati, nikmati saja hasil dari amal ketika hidup.

Diantara bentuk tanaman yang bisa diunduh saat mati adalah apa yang pernah dikatakan Rasulullah saw dalam hadits yang terkenal:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya". [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]

Sesungguhnya tiga hal ini tidaklah bersifat paten apa adanya, tetapi dapat dimaknai sebagai sebuah inti yang dapat dikembangkan. Misalkan dalam konteks ilmu yang manfaat, sesungguhnya seseorang yang berilmu kemudian meninggal dan ilmunya itu telah disebarkan ke pada murid-muridnya maka ketika sang murid beramal, sang gurupun mendapat bagiannya. Demikian pula dengan amal jariyah dan anak shaleh.

عن سفيان عمن سمع من انس ابن مالك رضي الله تعالى عنه يقول قال رسول  الله صلى الله عليه وسلم إن الأعمال الأحياء تعرض على عشائرهم وعلى أبائهم  من الأموات فإن كان خيراً حمدوا الله تعالى واستبشروا وإن يروا غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم هداية فقال عليه السلام يؤذى الميت فى قبره كما يؤذى فى حياته قيل ما ايذاء الميت قال عليه السلام ان الميت لايذنب ولايتنازع ولايخاصم احدا ولايؤذى جارا الا انك ان نازعت احدا لابد ان يستمك ووالديك فيؤذيان عند الاسأة وكذالك يفرحان عند الاحسان فى حقهما.

Dari Sufyan, ia dari seseorang yang pernah mendengar Anas bin Malik R.A. ia berkata. Rasulullah saw bersabda “sesungguhnya amal-amal mereka yang masih hidup itu bisa disodorkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. tapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdoa “ Ya Allah janganlah kau tutup usianya sebelum mereka Kau beri petunjuk”. Kemudian Rasulullah saw bersabda “ mayyit yang ada di dalam kubur itu juga merasa sakit, apabila ia disakiti. Seperti halnya ia masih hidup”.  “bagaimana caranya menyakitkan mayyit” demikian beliau ditanya. “apabila engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian seseorang tersbut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu(yang sudah meninggal). Nah, sekarang mayyit yang sama sekali tidak merasa berdosa dan bersengketa , bersitegang urat saraf kepada seseorang serta tidak merasa menyakitkan hati tetangga, turut juga terkena cacian dari seseorang. Jadi dia merasa di sakitkan hatinya jika diperbuat jelek. Juga begitu sebaliknya, dia merasa bergembira ria andaikata diperbuat bagus”

Demikianlah sesungguhnya amal seseorang di dunia ini sangat erat hubungannya dengan nasib orang tua yang telah meninggal. Karena mereka turut merasakan akibat yang ditimbulkan dari kelakuan anak-anaknya yang hidup. (ulil)

Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,58878-lang,id-c,ubudiyah-t,Kiriman+yang+Baik+untuk+Mayyit-.phpx

Minggu, 03 Mei 2015

Surat Fatihah Untuk Tercapainya Hajat

قال الله تعالى: قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل فإذا قال العبد: {الحمد لله رب العالمين} 

قال الله: حمدني عبدي فإذا قال: {الرحمن الرحيم} 

قال الله: أثنى علي عبدي فإذا قال: {مالك يوم الدين} 

قال: مجدني عبدي فإذا قال: {إياك نعبد وإياك نستعين}
قال: هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل فإذا قال: {اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين}
قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل
(حم م) عن أبي هريرة.


Allah berfirman (hadis qudsi) : 'Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, 'Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.' Maka Allah berkata, 'HambaKu memujiKu.' Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.' Allah berkata, 'HambaKu memujiKu.' Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Pemilik hari kiamat.' Allah berkata, 'HambaKu memujiku.' Selanjutnya Dia berkata, 'HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.' Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.' Allah berkata, 'Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta'. Apabila hamba tersebut mengucapkan, 'Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.' Allah berkata, 'Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta' (HR Ahmad dan Muslim) 

Dari hadis ini sebagian ulama berdalil bahwa Surat Fatihah adalah doa untuk tercapainya hajat….

Oleh : Ust. Muhammad Ma'ruf Khozin
Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2015/04/surat-fatihah-untuk-tercapainya-hajat.htm

Apa Itu Hari Pendidikan Nasional 2 Mei ?


Hari Pendidikan Nasional, disingkat HARDIKNAS, adalah hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa, diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya. [1]

Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.[2]



Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda, dan ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Ki Hadjar Dewantara diangkat sebagai menteri pendidikan setelah kemerdekaan Indonesia. Filosofinya, tut wuri handayani ("di belakang memberi dorongan"), digunakan sebagai semboyan dalam dunia pendidikan Indonesia. Ia wafat pada tanggal 26 April 1959. Untuk menghormati jasa-jasanya terhadap dunia pendidikan Indonesia, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Meskipun bukan hari libur nasional, Hari Pendidikan Nasional dirayakan secara luas di Indonesia. Perayaannya biasanya ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, dari tingkat kecamatan hingga pusat, disertai dengan penyampaian pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait.

sumber wikipedia
[1] http://www.ugm.ac.id/en/?q=news/national-education-day-2012-the-rise-indonesian-golden-generation
[2] http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/29/yogya-students-collect-10000-books-national-education-day.html
Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2015/05/apa-itu-hari-pendidikan-nasional-2-mei.html

Mengapa Bulan Rajab Dinamakan Bulan Haram?

Rajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab. Sebagaimana sabda Nabi SAW :

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وَذُو الحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى، وَشَعْبَانَ 

"Sesungguhnya waktu berputar seperti keadaannya sewaktu Allah menciptkan langit dan bumi. Setahun itu dua belas bulan, diantaranya empat bulan haram. Tiga bulan berurutan; dzul qa'idah, dzul hijjah, dan muharram. Sedangkan rajab (bulan yang diagungkan oleh kabilah) Mudhar, berada di antara bulan jumadil akhir dan sya'ban". [HR. Bukhari dan Muslim]

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah : 36)

Ayat dan hadits diatas menunjukkan bahwa bulan Rajab merupakan bulan yang memiliki keutamaan (fadlilah), sebab bulan Rajab termasuk diantara bulan-bulan yang di hormati. Sehingga mengingkari bulan Rajab sebagai bulan yang memiliki keutamaan adalah perbuatan mungkar. 
Sumber www.Madinatuliman.com

Peristiwa Isra' Mi'raj di Bulan Rajab dan Tempat Manusia Teragung

Bulan ini adalah bulan rojab, jutaan manusia diingatkan kepada sebuah peristiwa agung yang tidak pernah terjadi pada makhluk Allah SWT dari dulu hingga nanti kecuali kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa luar biasa “Isro’ Mi'roj”.

Ada hal yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang tentang tempat mulya Sidratul Muntaha dan Mustawa, tempat yang Allah tidak memperkenankan siapapun menginjakkan kakinya di sana kecuali Rosulullah SAW. Bahkan Malaikat Jibril paling mulianya malaikat pun tidak berani dan tidak bisa sampai kepada tempat tersebut.

Hal lain lagi adalah naik turunnya Nabi Muhamad SAW untuk mengambil pendapat dari Nabi Musa A.S, berikut perbincangan Rosulullah SAW dengan Allah SWT di tempat tersebut. Kejadian dahsyat dan luar biasa ini sungguh mengagumkan hati ahli iman. Ini adalah memang urusan hati dan tidak akan bisa faham kejadian ini kecuali ahli iman.

Hal yang perlu dicermati di balik kisah luar biasa ini adalah hanyutnya sebagian orang dalam irama kekaguman terhadap kisah Sidratul Muntaha dan mustawa berikut dialog Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Hingga sampailah pada titik keyakinan bahwa Rasulullah SAW berdialog dengan Allah SWT di tempat itu karena menganggap di situlah tempat Allah SWT. Dan mungkin juga terbayang sebuah suasana hening saling duduk berhadapan dan berdampingan antara Allah SWT dengan Rasulullah SAW. Inilah kesesatan aqidah bahkan itulah kekafiran yang tersembunyi di balik sebuah keyakinan. Disinilah orang sering salah alamat, seolah telah meyakini Tuhan Allah SWT yang “laisa kamtslihi syai’un” tidak diserupai oleh apa dan siapapun, akan tetapi telah tersesat dan tanpa terasa menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Meyakini Allah SWT bertempat, berhadap-hadapan dengan Rasulullah SAW adalah salah jalan dalam beriman kepada Allah SWT.

Begitu indah dan istimewanya perjalanan Isro mi'roj, mempesonakan hati yamg mencari-cari keteduhan di balik penghambaan kepada Allah SWT. Menghadirkan renungan dalam makna sambung komunikasi dengan Allah Yang Maha Agung yang terurai dalam kekhusu’an dalam sholat lima waktu.

Akan tetapi sholat yang semestinya penghambaan kepada Allah bisa berubah menjadi penyembahan kepada berhala yang di hayalkan jika ternyata seorang yang lagi Sholat telah meyakini tuhanya duduk dan membutuhkan tempat, buah kesalah pahaman akan isro’ mi'rojnya Rosulullah SAW.

Sungguh benar Rosulullah SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menembus langit ke tujuh hingga Al-Baitil Makmur, Sidratul Muntaha dan Mustawa dengan ruh dan jasadnya. Lalu berdialog dengan Allah SWT. Itulah tempat kemuliaan yang hanya disediakan untuk memuliakan Rasulullah SAW saja.

Yang perlu diyakini bahwa tempat itu bukanlah tempat Allah SWT. Sebab Allah SWT yang menciptakan tempat. Sebelum Allah SWT menciptakan tempat Allah SWT tidak butuh kepada tempat dan setelah Allah SWT menciptakan tempat Allah SWT tetap tidak butuh kepada tempat. Tidak bisa dan tidak boleh menyebut Allah SWT bertempat.

Bagi Allah SWT sangat mudah mengajak dialog khusus dengan Rosulullah SAW dimana saja. Bisa di Indonesia, Malaysia dan Amerika atau di bukit Tursina seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa A.S. Akan tetapi untuk seorang Nabi yang paling Allah SWT cintai dan muliakan, Allah SWT menginginkan dialog dengan kecintaanNya itu di tempat yang sangat istimewa yang tidak penah dijamah oleh apa dan siapapun.

Tempat tersebut adalah tempat kemuliaan Rosulullah SAW dan bukan tempatnya Allah SWT. Maha suci Allah SWT yang tidak diserupai oleh segala ciptaan Nya.

Wallahu a'lam bishshowab.



Oleh : Buya Yahya/ Al Bahjah
Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2015/04/peristiwa-isra-miraj-di-bulan-rajab-dan.htm

Sabtu, 02 Mei 2015

Melacak Jejaring Ulama Nusantara Sepanjang Masa

Dari Masa Ke Masa ulama-ulama Nusantara telah lama menjalin jejaring sanad keilmuan dengan para maha guru Islam yang ada di Mekkah dan Timur Tengah. Sekembalinya dari merantau itulah, para ulama Indonesia mulai mengembangkan keilmuan (pembaharuan) serta menjadi inspirasi untuk menggerakan semangat jihad melawan kolonialisme

John R Bowen dalam artikelnya “Intellectual Pilgrimages and Local Norms in Fashioning Indonesian Islam” menulis, ulama Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Makkah dan Madinah,  kembali ke Indonesia membawa semangat pembaruan untuk melawan tekanan kolonialisme melalui organisasi Islam. Gerakan ini pada dasarnya adalah bentuk pemurnian nilai Islam dari campuran nilai-nilai lain. Meski awalnya organisasi ini bersifat kultural dan ke daerahan, pola tersebut kemudian berkembang men jadi gerakan modern. 

Jejaring ulama Nusantara ini sudah lama diteliti oleh Dr Asyumardi Azra dalam disertasi asli “The Transmission of Islamic Reformism to Indoesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”. Disertasi saudara Azyumardi Azra yang diajukan kepada Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir tahun 1992, guna memperoleh gelar Ph.D. Dalam penelitiannya ini, Dr. Azyumardi Azra, dikemukakan lebih jauh, bahwa penelitian ini adalah merupakan langkah awal dalam menyelidiki sejarah sosial dan intelektual ulama dan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya dalam kaitannya perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. Karena tidak mungkin, pembaharuan yang terjadi di berbagai negara Muslim ini tanpa adanya mata rantai yang sambung-bersambung (sanad ‘ilm, mata rantai keilmuan-red) dengan pusat pertumbuhan dan perkembangan Islam di Timur Tengah.

Dalam realitas kesejarahan, pertumbuhan dan perkembangan Islam di Nusantara, yang pada dasarnya memiliki keterkaitan erat dengan dinamika umat Islam di Timur Tengah, bukanlah sekedar dilandasi oleh faktor politis. Pada masa awalnya, yakni pada akhir abad ke-8 hingga abad ke-12, hubungan diantara kedua wilayah umat Islam tersebut, lebih sebagai hubungan perdagangan dan ekonomi. Pada masa berikutnya, hingga akhir abad ke-15, hubungan antar kedua kawasan mulai mengambil aspek yang lebih luas. Disamping mereka melakukan praktik perdagangan, para pedagang dari Timur Tengah juga melakukan upaya penyebaran agama Islam, sehingga akhirnya terjalin hubungan sosial-keagamaan yang sangat erat diantara keduanya. Selanjutnya, pada abad ke-15 hingga paru kedua abad ke-17, hubungan yang terjalin diantara Melayu-Indonesia dengan Daulat Utsmani, lebih banyak diwarnai oleh faktor politis. 

Kenyataan ini sebagai akibat dari adanya pengaruh perebutan dua kekuatan besar, yakni dari penguasa Spanyol dan Daulah Utsmani. Dengan adanya hal ini, maka kemudian para elit penguasa di Nusantara mengambil posisi untuk menjalin kebersamaan dengan daulat Utsmani. Hubungan yang lebih bersifat keagamaan dan politis ini, dikembangkan dengan para penguasa di Haramayn. Dengan adanya jaringan dengan ulama di Haramayn ini, kemudian menjadikan ulama dari Nusantara untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan keilmuan serta intelektualnya. Daris sinilah kemudian semenjak paruh kedua abad ke-17 ini, hubungan diantara ulama Haramayn dengan ulama di Nusantara ini lebih merupakan hubungan sosial-intelektual, selain juga hubungan sosial-keagamaan.

Melalui pendekatan penelitian historis-filosofis serta pendekatan sosiologis-antropologis penulis dapat menelusuri pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan yang terjadi dikawasan periferi, yang selama ini dianggap remeh oleh para peneliti serta sarjana modern. Dari penelitian little tradition yang ada di kawasan periferi ini, terdapat gagasan serta ide-ide pembaharuan, yang pada dasarnya juga dikembang tumbuhkan dari jaringan ulama, yang berpusat di Haramayn, dengan memunculkan “sintesis baru” menjadi great tradition. 

Jaringan Ulama yang telah lama terbangun dalam wilayah Internasional ini dibuktikan dengan adanya jaringan ulama Melayu-Indonesia, bukan berarti hasilnya berlaku lokal bagi Muslimin di Nusantara, karena Jaringan Ulama yang terjadi ini merupakan mata rantai yang sangat luas dan menyeluruh ke semua belahan Dunia Muslim. Ulama Melayu-Indonesia adalah merupakan bagian dari jaringan besar tersebut dimana pada masa itu mulai dilaksanakannya pemikiran serta gerakan pembaharuan di wilayah Islam Nusantara.

Menurut penulis, setidaknya ada dua istilah kunci digunakan Dr Azyumardi Azra  dalam menguak jejaring ulama Nusantara yang menjadi sangat penting dan menentukan. Pertama adalah kata Jaringan. Dengan jaringan ini maka diantara para ulama yang berasal dari berbagai daerah bisa melakukan kontak untuk melakukan dialog serta proses peleburan tradisi-tradisi “kecil” (little tradition) untuk membentuk “sintesis baru” yang sangat condong pada tradisi besar” (great tradition). Proses peleburan yang semacam ini, diantara ulama dilakukan dengan berpusat di Haramayn (Makkah dan Madinah). 

Kedua adalah kata Transmisi. Yang dimaksud dengan transmisi adalah, upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk menyebarkan , menyampaikan gagasan, ilmu serta metode yang diperoleh dari daerah tertentu, tentang sesuatu yang tertentu pula, untuk kemudian disebarkan ke berbagai daerah lainnya. Yang dimaksud dengan transmisi ini adalah, upaya yang dilakukan oleh seorang ulama untuk menyebarkan, menyampaikan gagasan, ilmu serta metode yang diperoleh di Haramayn, tentang tradisi keagamaan pusat-pusat keilmuan Timur Tengah, ke berbagai dunia Muslim, seperti Melayu-Indonesi (Nusantara). Proses transmisi ini akan menghasilkan letupan-letupan pembaharuan, yang pada gilirannya nanti secara signifikan akan mempengaruhi perjalanan historis Islam di tanah air masing-masing.

Ulama-ulama Nusantara memberikan sumbangan dalam pengembangan keilmuan Islam pada masa itu. Karena,  pertama, tertolaknya suatu asumsi yang mengatakan bahwa hubungan antara Ulama di Timur Tengah dengan para Ulama di Nusantra, hanyalah bersifat politis. Hal ini dikarenakan, semenjak abad ke-17, terutama diparuh kedua abad ini, hubungan diantara mereka lebih menekankan pada aspek sosial-intelektual (keilmuan).  Kedua, tertolaknya suatu asumsi yang mengatakan bahwa abad ke-17 dan 18 adalah abad kegelapan bagi umat Islam. Karena pada kenyataannya di abad ini justru merupakan masa yang sangat harmonis dan dinamis, bagi perkembangan pemikiran serta keilmuan Islam. Islam dimasa ini bukan lagi Islam yang bercorak mistik (sufistik), akan tetapi Islam yang merupakan perpaduan antara Tasawwuf dan Syariah (Neo Sufism). Terjadinya perpaduan diantara keduannya ini, merupakan kesadaran dari para ulama fiqih (fuqoha) dan ulama tasawwuf (sufi), untuk saling menyadari akan keberadaan serta peranan masing-masing. Dengan adanya kesadaran yang demikian inilah, maka kemudian berkembang suatu praktik keislaman yang baru, yakni yang disebut dengan Neo-Sufisme. Ketiga, adanya peranan serta keterlibatan ulama-ulama melayu dalam jaringan ulama Internasional, yang pada taraf selanjutnya mampu melakukan upaya transmisi keilmuan dan pemikiran ke wilayah Nusantara, untuk melakukan langkah pembaharuan. Perkembangan pemikiran dan keilmuan didunia Islam, memang tidak terlepas dari adanya jaringan yang terbentuk diantara para ulama Timur Tengah dengan ulama-ulama lain diberbagai dunia Muslim. 

Demikian pula dengan perkembangan pemikiran dan pembaharuan yang terjadi di kalangan umat Islam Indonesia, adalah merupakan hasil dari keberadaan ulama Melayu-Indonesia yang terlibat dalam jaringan tersebut. Peranan Ulama ini bisa dilakukan dengan mengaplikasikan ilmu, gagasan serta metode yang didapatkan dalam jaringan tersebut, di tanah airnya, atau juga bisa melalui buku-buku yang disusun dan disebarkan ke wilayah asalnya. Teori-teori yang berkembang dapat ditelisik melalui dialog para ahli sejarah, dapat dirunut melalui awal sejarah kedatangan Islam ke Nusantara yang dimulai dari abad ke 7 sampai abad 12 M. Sebagian mengatakan dari India (Gujarat), sebagian lain dari China ( melalui sahabat Said bin Abi Waqqas yang diutus Rasulullah SAW ke Cina), Persi dan lain sebagainya. 

Dengan demikian, dapat ditarik benang merah mengenai hubungan antara Haramayn dengan Nusantara. Kebangkitan dan perkembangan jaringan ulama nusantara ini masih dalam jaringan internasional yang berpusat di Haramayn (Mekkah). Berbagai kebijakan yang diambil dalam pemerintahan Haramayn, yang kemudian memunculkan kemudahan dan efektifitas diantara para ulama untuk melakukan transmisi keilmuan diantara mereka. Selain itu juga dijelaskan proses ekspansi jaringan ulama ke daerah lain.

Adanya pembaharuan yang terjadi, sebagai akibat dari terjalinnya antar ulama dari berbagai daerah ini. Perkembangan dan kecenderungan masyarakat muslim dari mistik menuju pada neo-sufisme. Ulama-ulama Nusantara memiliki andil terhadap kelahiran pembaharuan Islam di negeri Nusantara. Ulama Nusantara pada masa itu antara lain Nurrudin Al Raniri (w.1068/1658), ‘Abd Al Ra’uf Al Sinkili (1024-1105/1615-1730) dan Muhammad Yusuf Al Makassari (1037-1111/1627-1699). 

Sementara jaringan ulama beserta langkah pembaharuan yang dilakukan oleh para ulama di wilayah Melayu-Indonesia pada abad 17 dan 18 banyak dilakukan oleh Ulama Aceh, ulama-ulama Padri (Padang Minangkabau), P Diponegoro di Tanah Jawa, Sayid Idrus Sulawesi, Syekh Arsyad Al Banjari Kalimantan dll banyak membentuk pola pemberontakan lokal dan belum meluas serentak se tanah air dalam melawan kolonialisme. Pengembangan keilmuan islam pada saat itu tentu terpusat pada surau, dayah dan musholla, sisanya banyak ulama, kyai dan santri berjuang secara gerilya dalam skala local (territorial) melawan kompeni Belanda.

Baru pada akhir abad ke-19, ulama-ulama pesantren di Nusantara makin masif berkonsolidasi. Selain di Makkah Madinah (Haramain)  konsolidasi juga dilakukan di Nusantara, misalnya di Aceh tahun 1873 telah mencetuskan ide “Jumhuriyah Indonesia” (Republik Indonesia) dan disebarkan hingga ke Papua untuk membangun cita-cita kesatuan tanah dan bangsa Indonesia. Jejaring ini pernah dibangun dalam jejaring ‘Busur Laut Nusantara’ pada abad ke-14 hingga abad ke-16. Jejaring ulama-santri yang telah menegakkan Indonesia sebenarnya hasil dari proses panjang terbentuk dan terkonsolidasinya jejaring ulama Timur Tengah dan Nusantara sebelumnya.

Memasuki paroh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, semakin banyak ulama tanah Jawa yang menuntut ilmu di tanah suci. Informasi tentang biografi mereka lebih banyak dan tercatat dengan cukup detail di dalam kitab-kitab sanad dan buku-buku biografi Arab. Banyak dari mereka telah mendapat ijazah (sertifikasi) dan mengajar di Masjidil Haram. Hal tersebut secara tidak langsung, menjadikan mereka di tanah suci sebagai penerus jejaring ulama nusantara yang telah dirintis oleh para ulama Nusantara sebelumnya.

Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, seorang mufti agung Makkah pada abad ke-19 yang telah membuka pintu bagi ulama-ulama nusantara untuk berkiprah dan memancangkan komunitasnya di Haramain dan berjejaring dengan ulama-santri di Nusantara. Sebagian ada yang menyemai di Haramain untuk menampung para ulama-santri yang datang dari berbagai penjuru nusantara, sebagian kembali ke Nusantara untuk menjadi poros dan mengokohkan bergeraknya jejaring yang telah dibangun. Dari Kalimantan muncul Syekh Khatib As Sambasi, dari Sumatera muncul Syekh Ismail al Minangkawi dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, dari Jawa muncul Syekh Nahrawi al Banyumasi, Syekh Juned al Batawi, Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Abdul Karim al Bantani, dan dari Nusa Tenggara Barat menghadirkan Syekh Abdul Gani Bima pada abad ke-19 yang berada di Masjidil Haram Makkah menjadi poros bagi ulama-ulama nusantara.

Poros ulama Nusantara di Haramain tersebut berhasil membentuk soliditas ulama. Muncullah nama-nama semisal Syekh Sholeh Darat, KH Ahmad Rifai’i Kalisalak, Syekh Khalil Bangkalan, Syekh Hasyim Asy’ari, Syekh Tolhah Cirebon, KH Ahmad Dahlan, Tuan Guru Zainuddin bin Abdul Madjid Al Amfani Al Fancuri (Tuan Guru Pancor , Lombok NTB) , KH Ahmad Sanusi Sukabumi, Dr. Moh Hatta Bukit Tinggi dll. Kenapa penulis perlu memasukan Dr Hatta dalam salah satu khazanah ulama Indonesia. Dr Moh Hatta pernah belajar dengan Haji Mohammad Djamil, putra Syekh Batu Hampar. Ia juga belajar dengan Syekh Arsyad dan Syekh Djambek yang tiada lain tokoh besar ulama Minangkabau pada masa itu, dll.
Ulama-ulama inilah yang dikemudian hari menjadi jangkar ulama di nusantara yang menggerakkan poros tersebut, berkiprah di pesantren, surau atau dayah. Mereka tidak hanya menimba ilmu di Haramain, tapi juga di Kairo Mesir sehingga terdapat diskursus intelektual dan perbedaan garis perjuangan. Meskipun demikian, karena memiliki kesamaan semangat anti kolonial, diskursus dan perbedaan tersebut mampu diredam meskipun percikan-percikannya tentu saja mempengaruhi arah dan warna perjuangannya di kemudian hari, khususnya dalam tradisi keberagamaan.

Dan sejarah mencatat, simpul-simpul utama jejaring ulama tersebut terkonsolidasi dalam suatu poros untuk menegakkan bangsa Indonesia. Syekh Hasyim Asy’ari berupaya mensinergikan simpul-simpul utama ulama, habaib, dan kelompok pembaharu (intelegensia/cendekiawan) untuk bergerak bersama dalam Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya, KH Ahmad Sanusi dengan Persatuan Islam (Persis), Tuan Guru Zainuddin bin Abdul Madjid Al Amfani Al Fancuri (Tuan Guru Pancor , Lombok Nusa Tenggara Barat) dengan mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1937, Sayid Idrus dengan Al Khairat di Palu (Sulawesi). Sementara tokoh pergerakan dan kebangkitan Nasional dari intelektual muslim, tampil Dr Moh Hatta, Ir Soekarno dan Syahrir dengan Persatuan Nasional Indonesia (PNI) dan lain sebagainya. 

Melalui jejaring gurunya, koleganya dan muridnya, simpul-simpul itu membangun soliditas dan kekuatan utama pergerakan nasional hingga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terbentuk dan terkoneksinya jejaring itu menjadi kekuatan baru (new energyzing) yang nantinya membungkam sejarah kolonial dan menjadi titik pijak gerakan pembaharuan Islam (nasionalis-Islam) baik yang gerakan Islam tradisional  dan gerakan Islam moderat. Gerakan Islam yang tradisional , moderat dan toleran itu masih berkembang hingga kini  telah mewarnai, bentuk dan serta corak gerakan Islam keagamaan, politik, ekonomi dan sosial budaya kemasyarakatan dalam bingkai NKRI. (***)


Penulis : Aji Setiawan, alumni Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Sumber : http://www.muslimedianews.com/2015/05/melacak-jejaring-ulama-nusantara.html